All posts by wahita damayanti

About wahita damayanti

pray, do, give the rest to Allah

Diambang Kepunahan

            Globalisasi, masa dimana seolah tidak ada lagi sekat antar negara, langit dan kontinen. Masa di mana siapapun bisa melakukan apapun kapanpun dan dimanapun. Perkembngan teknologi yang pesat menjadi kunci lahirnya peradaban globalisasi. Komunikasi yang bahkan tak sampai dalam hitungan detik, akses informasi yang demikian cepatnya menyebar, pemenuhan kebutuhan yang tak perlu bersusuah-payah mencari cukup berganti dengan kata klik. Era yang sepertinya menjadi masa kejayaan manusia abad ini sayangnya tak dimbangi dengan sisi yang pernah menemani manusia dalam masa menuju era emasnya.

            Globalisasi tak melulu melahirkan kemudahan. Tak semua orang mengecap betapa mudahnya hidup di zaman ini. Yang banyak terjadi adalah munculnya berbagai ketimpangan, tentu yang paling utama adalah ketimpangan ekonomi. Kenikmatan hidup hanya dinikmati masyarakat lapisan atas, sementara kelas bawah hanya bisa menengadah dan menunggu janji-janji kemakmuran oleh mereka yang kerap berpidato di atas panggung atau mimbar.

            Tak hanya soal kemakmuran. Yang lebih parah, bangsa ini dilanda krisis identitas. Tak lagi kenal adat, bahasa, dan segala klenik budaya leluhur. Lihat saja, bagi kita yang sekarang hidup dalam sisa-sisa budaya Jawa, adakah sekarang kita mendapati bocah-bocah berbicara dengan Bahasa Jawa? Adakah kita dapati para ibu memanggil anaknnya dengan bahasa yang sama? Orang tua sebagai sekolah pertama bagi anaknya mulai sedikit-demi sedikit kehilangan fungsinya. Orang tua sebagai media transfer informasi, dalam konteks ini Bahasa Jawa dapat secara mudah kita amati, mulai jarang digunakan orang tua sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Entah mengapa, penggunaan bahasa Jawa seakan dianggap sebagai bahasa yang tak layak dipakai di depan umum. Lingkungan hidup adalah media sosialisasi strategis aplikasi Bahasa Jawa. Bahasa lokal yang paling banyak dipakai di Indonesia ini benar-benar terancam punah. Bisa kita bayangkan, berapa banyak budaya lain yang akan ikut musnah apabila bahasa ini punah. Prosesi pernikahan Jawa tradisional, tedak siten/ piton-piton dan yang lainnya akan ikut terseleksi karena bahasa pengantar prosesi adat bukan lagi bahasa Jawa tetapi Bahasa Indonesia atau mungkin nanti bahasa Inggris.

            Peran orang tua yang tidak maksimal tidak didukung pula oleh pemerintah. Tidak ada langkah/program nyata khusus yang dibuat untuk menggalakkan penggunaan bahasa Jawa. Padahal sesungghnya bahasa ini memiliki nilai yang kompleks. Banyak kata dalam bahasa Jawa yang tidak dengan mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Setiap kata nya memiliki aturan dalam penggunaanya.

            Jangan sampai kita menjadi orang yang salah memaknai dan menghayati arti globalisasi. Globalisasi boleh berarti tak ada sekat, semua milik bersama, tetapi yang pasti nilai-nilai luhur yang telah ada jangan sampai luntur apalagi hilang tanpa bekas. Harus selau ada budaya ekslusif yang menjadi ciri khas dan identitas bangsa kita dalam dunia global.

Advertisements

Catatan Harian 1

Jadwal kuliah semester ini membuatku seperti duduk kembali di bangku SD. Jadwal dimulai di pagi hari hingga tengah hari saat matahari tengah terik-teriknya. Rutinitas yang harus selalu dilakukan dari Senin sampai Kamis. Rutinitas yang jelas bisa dikatakan membosankan bagi mahasiswa “setengah-setengah “ seperti aku. Masuk kelas in-time, duduk menunggu dosen yang rata-rata selalu telah 10 menit, membuat kesibukan dengan mengotak-atik telepon genggam seperti halnya teman-teman yang lain. Dosen pun datang, menyalakan komputer dan menampilkan slide minim nilai estetis.  Solus mengatasi kebosanan dengan aktivitas ini hanyalah dengan bersabar sampai beberapa bulan ke depan.

 

Dulu aku berminat, bahkan sangat bersemangat masuk jurusan ilmu hukum seperti yang tengah aku pelajari saat ini. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku didera kejenuhan. Materi yang menurutku kadang-kadang terkesan dipaksakan untuk menjadi sebuah logika digunakan memecahkan masalah kompleks negara ini. Dan hal-hal ini harus kutemui sejauh mata memandang dan telinga mendengar. Di koran maupun televisi semuanya gembor menyoroti ribuan kejahatan juga pelakunya, menguliti sampai habis meskipun tak akan pernah habis. Setiap kali teman-teman bertanya apa cita-citaku, di mana dan sebagai apa aku ingin berkarir, aku hanya bisa menyeringai. Jangankan kerja di mana. Mata kuliah apa yang saat ini ku suka pun aku tak tahu. Karena itu, aku sering kagum ketika melihat teman atau  senior begitu fasihnya membahas isu-isu terhangat dan mengomentarinya bak para dosen yang sering mengajarku,mengucapkan pasal sekian ayat sekian bla bla bla . Apa bacaan  mereka? Buku apa? Kitab undang-undangkah? Lebih menarik manakah jika dibandingkan dengan komik-komik Jepang macam Kobo Chan dan Kariage Kun yang masih sering aku baca?  

 

Beruntung dan berbahagialah mereka yang merasa cocok dan begitu bersemangat untuk semakin mengasah keilmuan mereka di bidang ini. Lalu, bagaimana denganku?

Amanah dari Allah dan orang tua sudah terlanjur diemban. Allah menempatkanku di sini pastilah tanpa alasan. Begitu pun orang tuaku. Tuntutan agar aku berprestasi dan berhasil untuk mencapai hal besar di bidang ini tak mungkin bisa dipungkiri. Tidak ada kata menengok ke belakang, apalagi mundur dan mengahindari realita. Dulu aku pulalah yang memutuskan untuk belajar di sini. Jika aku mengeluh, pastilah aku malu kepada Allah, melihat bagaimana dulu aku memohon-mohon agar doaku  untuk di terima di kampusku itu dikabulkan. Cinta dan semangat harus selalu dipupuk.

 

Satu hal yang pasti, aku tidak ingin idealisme  yang aku pegang sekarang ini luntur. Yakni dimanapun aku bekerja, entah di korporasi, birokrasi, wirausaha , atau ibu rumah tangga sekalipun, tujuan pendidikan yang aku tempuh ini adalah untuk membantu orang lain, orang-orang yang nasibnya tidak seberuntung aku. Aku hanya ingin bisa bermanfaat untuk banyak orang, menjadi alasan di balik senyum-senyum mereka dan membuat suasana terasa ganjil jika aku tidak menggenapi keberadaan mereka. Semoga, terus begitu sampai akhir hayat.

 

 

 

# Emperan rumah, 18.15, sembari duduk menunggu kedatangan kunci rumah ditemani nyamuk-nyamuk gemuk yang menggigit.

Kala 360 Jadi Fenomena

Segala hal yang berbau fenomenal erat kaitannya dengan pemuda Indonesia. Apalagi dengan fenomena-fenomena akhir-akhir ini. Mulai dari cabe-cabean lah, terong-terongan lah, dan mungkin akan disusul dengan istilah sayur-mayur atau buah-buahan lainnya. Orang-orang yang tergabung dalam serikat sayur-mayur divisi cabe-cabean dan terong-terongan ini harus memenuhi beberapa kriteria agar bisa menjadi bagian dari serikat tersebut. Kriteria itu akan dipenuhi jika para pihak yang tergabung telah melakukan beberapa atau seluruh kewajiban yang tercantum dalam tata tertib cabe-cabean. Seperti,  memakai hotpant sebagai seragam wajib, handphone sebagai pegangan utama, behel, entah yang dipasang di dokter gigi atau tukang pasang gigi sebagai penunjang senyuman, rambut kaku lurus hasil rebonding dan juga kewajiban memakai foto selfi hasil editan baik yang dicerahkan, dihitamputihkan, dibuat kolase, yang penting foto tidak boleh dipajang polos. 

Salah satu kriteria yang begitu booming dan menyebarluas dilakukan berbagai kalangan adalah foto selfie yang telah diedit secara instan namun menghasillkan foto kualitas jempolan. Sepengetahuan saya, aplikasi editor yang dipakai paling marak adalah kamera 360. Saya duga, filosofi dari penamaan 360 adalah karena tujuan utama dari foto editor ini adalah ingin merubah hasil foto seseorang 360 derajat. Foto yang tampak pada layar ponsel tidak akan sama dengan wajah asli.Rasanya tidak akan lengkap jika ponsel-ponsel pintar yang dipegang tidak dipasangi aplikasi kebanggan cabeyers. Wajah yang berjerawat jadi halus, kulit yang hitam kusam jadi putih lembut, mandi atau belum mandi, wajah anda akan selalu tampak lebih cantik. Hal ini membuat para cabeyers yang awalnya tidak percaya diri memamerkan kecantikanya menjadi begitu percaya diri. Tak jarang orang yang melihat foto hasil editan itu “pangling” dengan si empunya foto. Membuat orang yang tidak tahu bertanya-tanya berapa ratus ribu won yang telah dihabiskan orang tersebut untuk melakukan oplas alias operasi plastik di negeri boyband. 360 benar-benar menjadi wabah. Muda, tua, lansia (adakah?)Image dari anak SD hingga ibu-ibu tak lupa untuk mengedit dulu foto-fotonya sebelum diterbitkan ke dunia maya. Pun dengan gaya-gayanya. Bibir yang dimanyun-manyunkan, rambut panjang hitam legam yang diurai indah, senyum manis yang membuat siapa saja klepek-klepek. Beuh, betapa bahagianya si pembuat aplikasi ini karena telah menjadi penolong dan pengukir senyuman bagi semua selfiers. Tapi bisa juga bahwa hati si pembuat aplikasi ini merasa begitu bersalah karena ia  telah mengikis dan menambah rasa percaya diri seseorang  dalam waktu yang bersamaan. Menambah karena tidak bisa dipungkiri, berapa banyak foto selfie editan yang telah kita lihat di jagad maya dalam pose yang rata-rata sama. Yang membedakan adalah kebesaran Allah yaitu keanekaragaman wajah selfier itu sendiri. Mengikis karena disadari atau tidak orang-orang menjadi tidak merasa lengkap jika foto dirinya belum diedit sebelum diupload. Edit foto sudah seperti prosedur wajib pengambilan gambar.

Positif atau tidak fenomena ini, ya jelas tergantung. Bagi para penggemar 360 sudah pasti hal ini positif. Praktis, murah, cepat. Dampak negatif mungkin hanya akan terasa signifikan bagi para pekerja foto karena ongkos ketrampilan edit via komputer jadi menurun. Suka-suka yang menilai lah. Kita tunggu saja, fenomena apa berikutnya yang akan menyerang dan menjadi wabah di negeri ini. Sekian 

Cerita Puendek Huelek “Kalau Tak Jodoh Maka Tak Jodoh”

Tak Jodoh Maka Tak Jodoh

Kutatap lekat-lekat nama yang tertulis di atas kertas karton merah jambu berpita emas itu. Salman Al Farisi. Nama indah dari sahabat Rasulullah yang merupakan seorang jenius dalam menyusun strategi perang. Kualitasnya tidak akan pernah ditandingi oleh penyandang nama yang sama dengannya setelahnya. Termasuk juga kakak tingkatku, Mas Faris, biasa ia disapa.

Tak lupa juga kupandangi nama yang tertulis beberapa baris di atasnya. Armaida Qur’ani. Nama yang lima hari ke depan akan diikrarkan Mas Faris sebagai  istrinya, pendamping hidupnya, yang akan dibimbing menuju surga ilahi. Penasaran aku akan sosoknya. Seperti apakah parasnya, semanis apa senyumnya, seteduh apa wajahnya, hingga Mas Faris yang bahkan belum menginjak usia 24 tahun begitu mantap menikahinya. Kubalik kertas undangan itu. Di situ tertera namaku. Seseorang yang diundang agar berkenan hadir dan memberikan doa bahagia. Miris yang ku rasa.

Jika kertas-kertas undangan itu bisa berekspresi pastilah semuanya merasa bahagia karena para pembacanya akan tersenyum melihat dua nama di atasnya akan segera bersanding. Kecuali undangan yang ku pegang. Ia akan merasa menjadi kertas undangan paling tidak beruntung di muka bumi karena gadis yang membacanya hanya bisa menorehkan senyuman kecut, lengkap dengan lelehan air mata.

Sudah sejak awal aku masuk kuliah, sosok Salman Al Farisi kw sekian itu sudah menjadi sosok yang lebih di mataku. Suara adzan dan tilawahnya, tawa renyahnya saat bercanda dengan teman-temannya, retorikanya saat mengisi kajian, argumennya yang cerdas tetapi tidak menggurui saat berdiskusi, dan… ah sudahlah. Mengingat-ingat kelebihannya malah hanya akan membuat hati gusar.

“Allahu akbar Allahu akbar”. Suara adzan dzuhur dari masjid komplek membuyarkan lamunanku sekaligus mengembalikan kembali  lamunanku hanya dalam sepersekian detik. Kuingat betul suara Mas Faris saat biasa melantunkan adzan di musholla kampus. Alangkah bahagianya orang yang kelak akan diadzaninya tiap pagi. Eh, salah. Mungkin lebih tepatnya alangkah bahagianya seseorang yang kelak akan mendengar tilawahnya tiap pagi-petang. Alangkah bahagianya.

“Hentikan!” bentakku pada diri sendiri. Segera aku beranjak dari kasur tempatku bergundah gulana beberapa jam terakhir guna mengambil wudhlu dan bertemu Allah.

                                                                        —

Dengan langkah gontai kuhampiri ibukku yang siang itu tengah sibuk mengaliskan adonana kue keringnya. Setelah duduk terdiam mengamati jari-jari gemuknya yang lincah menggilas adonan selama beberapa menit, kusampaikan isi otakku padanya.

“Buk, Safna mau nikah”

“Kapan?” tanya ibuk santai.

“Lha enaknya kapan buk?” tanyaku kembali sambil memain-mainkan tepung terigu di wadah.

Lha ibuk itu yo manut sama kamu lo. Kamu mau menikah kapan pun ibuk juga gak berhak menghalangi. Pertanyaan ibuk, mana calonnya? Kok belum datang nyamperin ibuk sama bapak buat ngelamar kamu. Atau kamu mau dicarikan?”

“Orangnya udah ada buk. Tapi masalahnya bukan dia yang mau ngelamar Safna, tapi Safna yang mau ngelamar dia.hehe” jawabku berusaha melucu.

Ibuk haya diam, tak menggubris celotehku.

“ Kakak tingkat Safna mau nikah buk. Itu lo, mas Faris” ceritaku kembali menyambung obrolan, berharap ibuk menimpali.

“Alhamdulillah. Faris yang sering kamu ceritain ke ibuk itu to? Terus, hubungannya sama kamu apa?” Tanya ibuk polos.

“Buk, apa cerita Safna selama ini belum mampu menunjukan kalau sesungguhnya aku mengidam-idamkannya?” tanyaku dengan menatap ibuk tajam

Ibuk mesem “Bahasamu itu lo, sok banget. Ya ngerti to sab, jelas ibuk paham. Ibuk itu pendengar yang baik. Si pencerita nggak perlu menceritakan secara tuntas dan lugas pun, ibuk sudah paham maksudnya. Lha terus pie saiki karepmu?”

“Kira-kira, kalo Safna datang ke rumah Mas Faris, ngomong kalau sebenarnya udah jauh-jauh hari Safna suka sama Mas Faris, trus Safna bilang harusnya Mas Faris itu nikahnya sama Safna aja, pokoknya biar gak jadi nikah sama mbak yang di undangan itu, kira-kira berhasil gak buk?” tanyaku pada ibuk meskipun aku sadar, pertanyaan yang baru saja kulontarkan jauh dari kata bermutu.

Dengan panjang lebar ibuk menjawab “Kalo itu sinetron ya jelas berhasil sab. Heh, dengerin ibuk ya Sab. Nikah yang kamu maksud sekarang ini tu nikah kesusu, terburu-buru, mengejar nafsu bukan lillahita’ala. Orang tu nikah biasanya yang di cari apa to? Kalo yang dicari manusia itu sholeh, ganteng, dan harta, semuanya ada di deket sini. Yang sholeh, itu mas Wildan yang tinggal di masjid . Sholatnya lima waktu, tepat waktu, berjamaah, di masjid terus lagi. Yang ganteng? Itu ada mas tukang bubur yang tiap pagi lewat. Gak ada yang ngomong dia jelek kan? Atau mau yang kaya? Ada itu Pak Gun yang mobilnya jlentrek-jlentrek. Tapi pilihannya, kamu mau jadi istri yang ke tiga atau empat?”

“Aku maunya Mas Faris buk” Jawabku sekenanya

“Kenapa harus Faris?” Tukas ibuk cepat.

“ Karenaaa…. Satu, sholat dan ngajinya aku yakin lah, dia top banget. Dua, dia orangnya cerdas banget. Kelihatan dari omongan-omongan spontannya itu buk. Apalagi kalo lagi ngasih nasihat ke adek-adeknya. Tiga, dia udah mandiri buk. Udah bisa cari duit sendiri meskipun belum lulus kuliah. Itu buk, mas Faris tu hobi sama fotografi dan edit-edit foto. Jadi dia sering dapet orderan gitu deh. Dan yang ke empat sih relatif ya, dia manis kalo kata Safna mah.hehe” Selorohku menggebu-gebu meyakinkan ibuk agar memaklumi kegalauanku.

 

“ Terus ibuk mau tanya. Kalo kamu bilang dia sholeh, emang kamu sudah sholeha? Sholat dan ngajimu sudah top juga?”

“ Ya belum sih, makanya aku mau dibimbing” jawabku membela diri.

“Kalo kamu bilang dia cerdas, pinter, emang kamu udah pinter juga? Kamu yakin kamu bisa jadi teman diskusi yang baik? Kamu yakin dia nantinya nyambung sama kamu?”

“Belum buk, makanya aku minta diajari biar bisa pinter kaya dia” kembali aku mengemukakan argumen yang sama untuk menjawab pertanyaan ibuk.

“Kamu juga bilang dia mandiri, bisa cari duit sendiri. Emang kamu udah bisa semandiri itu? Apa mau diajarin juga? Gak malu terus-terusan diajarin?”

Tajam benar pertanyaan ibuk yang terakhir ini. Dan aku hanya bisa menggeleng pasrah.

“ Sab, anakku yang manis, yang sedang galau karena pujaannya akan segera memperistri wanita lain..”

“ Kalimat yang terakhir itu gak perlu dipake buuk” potongku

“Hihi, iya bercanda. Nduk, ikhtiar seseorang dalam mencari jodoh itu ya cuma dua. Doa dan memantaskan diri. Coba sekali lagi An-Nur ayat 26nya dibaca. Yang baik itu untuk yang baik. Lha kamu, habis cerita bla bla bla lebihnya si Faris, tapi ibuk tanyain, gak ada satu jawaban pun yang kamu bilang iya, sudah. Semuanya belum. Bercermin kui penting anakku sing ayu dewe. Pesen ibuk yowislah, ikhlaskan Faris. Allah itu baik nduk. Dia ngasih kamu kesempatan lebih lama untuk memperbaiki diri, untuk lebih ikhtiar, biar kamu juga bisa dapat yang sama, bahkan mungkin lebih dari Salman Al Farisi. Ikhlas nduk, ikhlas..” nasihat ibuk panjang lebar yang sungguh semakin menamparku betapa tidak tahu malunya aku meminta yang lebih pada Allah saat aku belum bisa dikatakan lebih. Nasihat yang singkat tapi sungguh telah membuatku iklas dan yakin akan firman Allah bahwa belum tentu sesuatu yang kita inginkan akan selalu baik untuk kita.

“Kok ibuk tahu nama panjangnya?” tanyaku tak fokus, sambil mengelap kaca-kaca di mata.

“Asal ngomong aja, emang bener itu to?”

“hehehe. Udah ah gak penting. Yuk Safna bantuin nyetakin adonannya”

Ibuk mencubit kecil pipiku sambil tersenyum “ Dari tadi gitu kan lebih bagus”

                                                                        —

“Gimana, lancar nikahannya?” tanya ibuk langsung menyambutku yang baru saja pulang menghadiri walimah  Mas Faris dan istrinya.

“Alhamdulillah buk. Wong Mas Faris aja senyum terus gak berhenti. Seneng banget gitu.” Jawabku sembari menghampiri ibuk yang sedang sibuk membolak-balik koran edisi hari itu yang sepertinya baru sempat dibacanya.

” Istrinya ayu banget. Wajahnya wajah orang-orang soleha gitu lo buk. Kata temenku dia itu aktivis super. Udah merintis rumah baca sama sekolah kolong jembatan buat anak jalanan di mana-mana. Berjiwa sosial tinggi. Allah memang gak pernah salah ya buk..” aku melanjutkan cerita

“Iya,untung ya si Faris gak dapet kamu” ibuk meledekku sambil menjulurkan lidahnya persis seperti keponakan kecilku yang sering usil menggangguku. “Jadi gimana? Mau nikah kapan?”

“Ehmm.. ya maunya sih as soon as possible buk . Kan ibuk tempo hari bilang, ikhtiar dulu, ngaca dulu, memantaskan diri dulu. Tapi kalo misalkan aja mas Faris yang ngajak Safna nikah, sekarang pun Safna siap kok” kekehku menggoda ibuk

“Ibuk beneran bingung. Benernya gimana to? Kamu tu udah sadar belum? Udah ilkhlas belum?” Tanya ibuk mengerutkan kening.

“Hihi, udah ibukku sayaaang” jawabku sambil beranjak dari kursi tempatku berbincang singkat dengan ibuk. Tak  lupa kucium pipinya sebelum berlari  kecil menuju kamarku dan meninggalkannya dalam senyum simpul manisnya.

                       

 

#PositiveThought #Chapter1 #Land of Ghazi

Selat Bosphorus, Laut Marmara, Teluk Tanduk Emas, Daratan Gallata,kesemuanya adalah masterpiece dari Sang Maha Pencipta yang diukir mengitari sebuah kota yang pernah menjadi tempat  paling berjaya dan berharga ibarat air di padang pasir. Sebuah kota yang telah berhasil ditaklukan oleh sebaik-baik panglima perang dan sebaik-baik pasukan. Sejarah menulisnya sebagai Konstantinopel, lalu oleh sang penakluk diganti menjadi Islambol hingga nama Islam dikaburkan oleh peruntuh kekhilafahan menjadi Istanbul.

Ya, ini adalah efek dari buku Muhammad Al-Fatih 1453 karangan ustad Felix Siauw yang beberapa hari lalu baru sempat ku baca. Ditulis tahun 2011, dan dibaca  tiga tahun kemudian di 2014. Tak apalah, substansi utamanya bukan siapa yang paling lebih dulu tahu, tapi siapa yang sudah tahu (membela diri :p ). Selain membuat lebih tahu, yang memang menjadi sifat mutlak sebuah buku. Keabsolutan ini juga terjadi pada si pembaca buku yang membayangkan hal yang terjadi dalam buku meliputi setting tempat, waktu,  dan suasana daripada isi buku, dan yang terpenting adalah bagaimana rasanya jika si pembaca berada di tempat tersebut saat itu juga. Awal dari keinginan mengunjungi kota seribu menara adalah saat membaca kisah perjalanan Hanum Salsabila dan suami dalam “99 Cahaya di Langit Eropa”. Semakin menggebu ketika mata membaca deretan kalimat tentang jalannya perang yang ditulis dengan sangat apik oleh si penulis Al-Fatih 1453.

Salah satu icon dalam buku Al-Fatih 1453 adalalah tembok terkokoh yang telah bertahan selama 13 abad , berdiri angkuh menghadapi musuh yang datang ingin merobohkan. Tembok yang dikatakan sebagai separuh jiwa dari tiap penghuni di dalamnya,  tebalnya dan tingginya yang bermeter-meter, serta tiga lapisannya, dianggap oleh Byzantium sebagai tameng terampuh yang tidak mungkin dirobohkan musuh yang pada akhirnya harus menyerah takluk oleh pasukan Al-Fatih dan membuat mereka entah menyadari atau tidak bahwa tembok hanyalah sebuah tembok. Kekuatan  Allah tak dapat dibandingkan dengan  tumpukan batu, berapapun besarnya.

Tak hanya temboknya, perhiasan di dalamnya juga pastilah menjadi magnet terbesar yang menarik keinginanku untuk berusaha dan berdoa agar bisa segera diberi kemampuan mngunjunginya. Blue Mosque, Hagia Sophia yang telah menjadi saksi berbagi peristiwa yang tak mungkin dianggap kecil. Bagaimana ia digunakan sebagai gereja, menyaksikan bagaimana penduduk Konstantinopel menangis gemetar berdoa pada Bunda Maria untuk menghilangkan keputusasaan  mereka akan jatuhnya kota ke tangan umat muslim, hingga ia menjadi saksi momen paling bahagia di mana akhirnya Sang Sultan Penakluk dengan kearifannya mengalihfungsikannya menjadi masjid dan menggemakan asma Allah di tempat itu. Tak lupa istana Topkapi yang menjadi istana terindah, termegah dan termahsyur Al-Fatih, tempat ia memimpin negara dan menerima tamu-tamunya yang sekarang menjadi salah satu museum sejarah islam terlengkap karena di dalamnya tersimpan benda-benda yang tak ternilai lagi harganya, juga nilanya di mata Allah yang begitu tinggi. Beberapa di antaranya adalah pedang-pedang terbaik kebanggan umat islam milik khulafaur rasyidin yang entah telah digunakan berapa kali mengirim musuh Allah ke penderitaan abadinya dan pastinya digunakan menegakkan agama Allah setegak-tegaknya. Tersimpan pula baran-barang dan bagian tubuh milik manusia terbaik yang pernah ada, Rasulullah, seperti helai rambutnya, giginya, tapak kakiknya, cawan hingga sandalnya.

Jika saat ini, saat tak pernah kaki ini menginjak Konstantinopel, dan tak lebih dari lima ratus kata yang mampu dituliskan untuk menuliskan keindahan fisik dan jiwanya, maka nanti aku berharap, ribuan kata tak akan sanggup lagi untuk kugunakan menuliskan keindahan-keindahan itu. Kelak, setelah aku menghirup udara di tanah yang diperjuangan para ghazi Allah. Aamiiin.Image

Mulianya Ali

Ketika membaca buku Dr.Mustafa Murad tentang kisah hidup Ali ibn Abu Thalib, terdapat paragraf bercetak miring yang menceritakan betapa mulia posisi Abu Thurab ra. kalimat-kalimat yang menyusun paragraf itu begitu kuat, berbangga, hingga  membuat saya merinding dan berkaca-kaca. Seperti ini  paragraf tersebut tertulis :

Muhammad Sang Nabi, dialah saudara dan mertuaku

Hamzah pemimpin para syuhada  adalah pamanku

Ja’far yang di pagi dan sore hari terbang bersama malaikat

Adalah anak pamanku, seorang kerabatku yang sangat dekat.

Fatimah putri Muhammad adalah pengantin dan kedamaianku

Darah dagingnya bercampur dengan darah dagingku

Cucu terkasih Muhammad anakku dari putrinya

Siapakah di antara kalian yang mendapat bagian sepertiku?

Dibanding kalian, aku lebih dulu menapaki jalan islam

Bahkan sejak aku anak-anak , ketika aku belum lagi balig

 

Betapa mulia dan utamanya Ali, mendapat pengajaran islam, langsung dari pembawanya. Ia dibesarkan dengan kasih sayang ummul mukminin, wanita yang paling dicintai Rasulullah, Khadijah. Ia tidak pernah menyembah berhala. Ia lah anak kecil pertama yang berislam, sholat sujud kepada Allah. Sujud, pujian dan pengabdiannya hanya untuk Allah semata, bahkan ketika ia belum balig. Ia begitu banyak dikelilingi orang-orang pilihan, orang-orang terbaik yang pernah hidup di muka bumi ini. Ia mencintai dan dicintai oleh permata Nabi,  Fatimah Az-Zahra. 

Nama memang sebuah doa. Pun dengan Abu Thalib yang memberikan nama indah pada anaknya.

Ali- yang luhur. 

 

 

 

Angel vs Devil

*Ditulis seminggu yang lalu, diunggah seminggu kemudian.

Hari paling utama, 25 Oktober 2013

I love Friday!!karena besoknya Sabtu.

Zzz, langsung menuju topik utama.

 

Book mode :

               Hari ini juga aku mulai sadar karena selama perjalanan dari tempatku belajar   menuju tempat berteduhku,  aku telah  merenungi keberadaanku di kampus “tercinta”. Allah memang sudah mengatur dan menempatkanku di situ. Aku diuji. Aku diperintahNya belajar. Karena setiap hari aku selalu disuguhi perbandingan. Perbandingan antara yang hak dan yang batil. Aku benar-benar merasa di persimpangan jalan. Ada yang siap membimbing ke surga, tapi ada pula yang siap sedia menyeret ke neraka.

Image

 

Original mode :

Pagi ini, pukul 10.30 aku janjian ketemu sama mbak cantik,baik, nan sholeh. Aku panggilnya mbak Ika. Gak janjian berdua sih, bareng-bareng. Cuma karena aku benci telat dan orang Indonesia suka ngaret maka jadinya aku dateng pertama.*bangga. Agendanya sih AAI (Asistensi Agama Islam) bareng mbak Ika itu.  Sebelum mentoring, aku setor dulu hafalan surat pendek sambil nunggu temen-temen yang lain dateng. Hingga selesai hafalan, bisa ditebak deh hasilnya, cuma satu orang  men yang dateng. Ya udah kita terus diskusi, dinasehati, dibacain hadist gitu-gitu. Yang mau aku dalami dari paragraph ini bukan apa isi AAIku tadi, tapi lebih ke inti pertemuan. Asal tau aja, dari 4 pertemun yang udah berlangsung, aku sering sendirian berdua sama mbak Ika. Dari peristiwa ini dapat ditarik kesimpulan (eleh kok jadi gini.) Pokoknya intinya, dari situ aku bisa nangkep bahwa ternyata orang-orang tu bener-bener males ya kalo diajakin baik. Bukan berarti aku sombong, aku udah merasa baik, nggaaaak. Aku masih jauh dari kata baik.eh salah, nulisnya harusnya “jauuuuuuuuh banget dari kata baik”. Tapi sebagai orang yang belum baik, ya itu tadi pandanganku. Temen-temen lebih pilih ngurusin makrab yang subhanallah nggak penting banget. Padahal mereka gak tau aja, ngobrol sama orang sholeh  tu asik tau. Kita jadi lebih banyak mikir tentang hal-hal berguna lain yang sering kita abein dan hal-hal nggak berguna lain yang malah sering kita prioritasin . Jadi lebih mikir “Ya Allah, mau nyari apa sih aku di dunia ini?” . Jadi lebih ademlah pokoknya. Yaaa mungkin mereka belum mau mikir ke situ kali ya. Tapi aku doain ja semoga mereka segera membanting setirkan cara pikirnya. Masuk ke yang lebih inti lagi, AAI hari ini adalah cara Allah membimbing dan menunjukkanku jalan yang baik 

 

 

Naaaah, berikutnya, jam 1 siang aku ada kelas etika profesi. Sebelum dosennya dateng, aku ngobrol sama temen-temen. Trus pas sampe pada suatu perbincanga, aku lupa ngomongin apa, tentang sholat jumat kalo gak salah. Tiba-tiba temenku cowok ada yang nyeletuk “wasting time”. Astaghfirullah, kaget bener aku. Aku mikir, kalo dia muslim kok bisa keluar omongan kayak gitu, kalo bukan, kok cara dia ngehina sholat jumat frontal banget . Dan bertanyalah aku pada si pemilik celetukan

“Kamu muslim bukan?”

“I am atheist “

Jiedeeeer. Bagai kilat menyambar dan gunung meletus dengan ledakan dahsyatnya, aku kaget gak percaya. Ya Allah, ternyata lingkungan-lingkungan yang pernah aku ceritain di tulisan sebelumnya segini parahnya. Ternyata aku deket bangeeet ama orang-orang gak beres. Orang sombong. Yang sampai tidak mengakui keeksisan Tuhan. Kita sempat berdebat dikit, tapi  aku masih dicibir. Aku belum punya bekal membantah secara kuat. Sebagai seorang muslim, aku maluuuuuuuu banget. Tanpa perlu aku jelaskan, udah jelaslah ya, kalo ini pelajaran yang kontra banget dengan pelajaran aku sebelumnya. Di sini ini, Allah memerintahkanku untuk belajar lagi, semakin dalam, supaya ntar aku bisa membabat habis argument mereka yang masih meragu.

 

Bismillah, Allahumma yasir…

Itu, itu kampusku

Image

Ini adalah awal.

Ini adalah baru.

Aku di sini, di persimpangan.

Aku tak punya teman.

Aku hanya berpura-pura tertawa.

Aku berpura-pura nyaman.

Sesungguhnya aku tidak.

 

Tempat ini kadang indah.

Kadang gila.

Kadang hebat.

Kadang aneh, kadang tak benar.

 

Di sini aku bertemu orang-orang hebat.

Di sini aku bertemu orang-orang baik.

Di sini aku bertemu orang-orang dengan hati yang tulus dan senyum ramah terindah.

Di sini aku bertemu mereka.

Mereka yang mengajakku membuat taman surga.

Mengajakku mengundang malaikat untuk mendoakanku.

Mengajakku duduk melingkar menyebut asma Allah.

Belajar hukum Allah.

Belajar keindahan akhlak para penghuni surga.

Belajar menjadikan Allah tujuan tunggal dan pertama.

 

Tapi terkadang di sana, di belakang,

Di tempat sempit nan gelap.

Ada pula mereka-mereka.

Mereka yang bernyanyi memainkan gitar.

Entah mereka bernyanyi atau berteriak aku tak tahu bedanya.

Ada pula yang sibuk mengisi perut.

Menghirup racun.

Atau tertawa terbahak-bahak menunggu keringat kering usai melempar-lempar bola.

Semuanya terjadi dalam satu waktu.

Saat panggilan mulia dikumandangkan.

Geleng-geleng, mengelus dada.

Hanya itu yang bisa aku lakukan.

Itulah selemah-lemah iman.

Astaghfirullah, tidakkah di sana ada yang berislam?

 

Dan di situ,

Iya di situ,

Itu kampusku……….

Jika Umar Hidup di Zaman Ini

Apa jadinya jika Khalifah Umar bin Khattab hidup di zaman kita yang amburadul ini? Habis sudah umat manusia ini. Semua dihabisinya.Yang tersisa hanyalah orang-orang sholeh. Umar yang terkenal keras perangainya, begitu total mengabdi pada ilahi, tak akan segan membunuh orang-orang yang melenceng dari jalur. Tak peduli siapapun itu, jika ia melanggar perintah Allah, waspadalah orang itu.

Pernah suatu ketika Umar mendapati kabar bahwa anaknya Abdurrahman meminum khamar hinnga mabuk saat di Mesir bersama temannya. Akan tetapi ia tidak dijatuhi hukuman di depan umum oleh gubernur Mesir mengingat ia adalah anak dari Amirul mukminin Umar bin Khattab. Beranglah Umar. Ia mengirim surat agar sang gubernur mengirim anaknya pulang dan harus berjalan membugkuk saat pulang. Sesampainya di Madinah, dalam keadaan sangat letih Abdurrahman langsung dibawa ketempat penghukuman dan dicambuk sendiri oleh Umar di hadapan kaum muslimi. Rintihan anaknya yang mengaduh dan meminta tolong tak dihiraukan Umar. Ia terus mencambuk anaknya. Hinga saat anaknya akan meninggal dunia, Umar berkata “ Jika kau bertemu Rasulullah, sampaikan padanya bahwa ayahmu telah melaksanakan hukuman”. Ketika Abdurrahman meninggal, Umar tak menampakkan raut kesedihan.

Anak sendiri bahkan dicambuk hingga meninggal dunia “hanya” karena meminum khamar yang di era sekarang ini dianggap kesalahan yang reatif kecil. Bagaimana jika Umar melihat apa yang terjadi saat ini?Perzinahan, korupsi, perampokan, pembunuhan dan segala perbuatan biadab lainnya yang tak henti-hentinya memenuhi layar kaca dan koran. Jikalau Umar hidup di era sekarang, ,tak mungkin  ada orang susah. Sistem monitoring canggih menjangkau tiap pelosok memantau siapa yang kurang. Penjara sepi, tapi kuburan penuh. Uang di BAZNAS melimpah siap dibagi-bagi. Wah,alangkah makmurnya. Sayangnya, good people die earlier itu memang benar. Mungkin, orang di luar sana yang “sedang jahat” tak pernah lupa bersyukur.

“Alhamdulillah, di zaman yang enak ini gak ada Umar” Image

Muhammad-Khadijah, Kisah Cinta Abadi

Siapakah orang paling beruntung di dunia ini? Yang hidup dalam cinta dan bimbingan menuju surga dari suami terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini? Ia adalah ummu mukminin pertama ,Khadijah binti Khuwailid. Entah sudah berapa ratus ribu penulis yang mengabadikan kisah cinta mereka dalam berbagai tulisan. Tapi tak pernah bosan  diri ini membaca dan mendengar kisah cinta sejati itu.

Khadijah binti Khuwailid ialah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah. Pengorbanan Khadijah yang begitu besar, juga dukungannya serta kesabarannya dalam menemani Nabi berdakwah membuat posisinya begitu utama di hati Rasulullah. Tak heran jika kematiannya begitu membuat Rasulullah berduka karena ia kehilangan pegangan yang kuat dalam berdakwah.Rasulullah pernah bersabda tentang siapakah wanita ahli surga itu. Mereka adalah Maryam,Fatimah az Zahra,Asiyah istri Firaun dan tentu saja Khadijah binti Khuwailid. Bahkan Aisyah, yang juga merupakan istri kesayangan Rasulullah pernah dimarahi oleh nabi karena sedikit menghina Khadijah dengan menyebutnya hanya wanita tua. Aisyah kesal karena Nabi selalu menyebut-nyebut nama Khadijah. Marahlah Rasulullah. Dari beberapa riwayat bahkan menyebutkan Rasulullah sedikit mencekik leher Aisyah karena berangnya. Rasulullah kala itu menjawab “Dia yang beriman padaku ketika orang-orang mendustakanku. Dia yang memberikan hartanya ketika orang-orang menahan hartanya untukku, dan dia yang memberiku anak ketika istri-istiku yang lain tidak memberiku anak.” (istri-istri Rasulullah memang tidak memberikan Rasulullah keturunan kecuali Mariyah Al-Qibtiah yang memberikan Rasulullah anak bernama Ibrahim,tetapi ia meninggal saat masih kecil). Sejak saat itu Aisyah tidak pernah menyinggung tentang Khadijah karena ia tahu betul posisi Khadijah di hati Baginda.

Sudah sejah awal Khadijah memendam rasa kepada Muhammad. Hal itu karena ia begitu kagum dengan budi pekerti Muhammad yang luar biasa baik.Hal ini membuatnya teringat akan perkataan sepupunya Waraqah yang mengatakan akan datang nabi terakhir yang akan mengajak manusia menyembah Allah dan memerangi kebathilan. Ia bertanya-tanya, “mungkinkah ia Muhammad?’’. Hal itu berlanjut ketika ia bermimpi bahwa ada sebuah cahaya yang jatuh di rumahnya sehingga menerangi rumahnya. Hal ini diceritakan kepada Waraqah. Jawaban Waraqah yang mengatakan agar Khadijah berbahagia karena rumahnya akan diselimuti cahaya kenabian membuat Khadijah berbinar.

Pernikahan mereka pun terjadi. Lamaran Khadijah yang disampaikan oleh sahabatnya,Nafisah diterima oleh Muhammad. Pernikahan suci nan penuh berkah, pernikahan antara lelaki terbaik dan wanita terbaik. Kehidupan rumah tangga mereka begitu bahagia dengan anak-anak yang dilahirkan Khadijah. Meskipun Khadijah adalah saudagar yang kaya raya, Rasulullah tidaklah berpangku tangan. Ia tetap berdagang dan juga membantu pekerjaan rumah tangga.

Khadijah selalu menemani suaminya apapun kondisinya. Saat nabi pertama kali menerima wahyu dan pulang ke rumah dengan menggigil, Khadijah menyelimuti nabi dan menghapus kegundahan suaminya.  Ia percaya akan semua perkataan suaminya. Ialah wanita pertama yang masuk islam. Tak segan ia mengorbankan hartanya yang berlimpah guna keperluan menjalankan perintah Allah. Allah pun begitu menyayangi Khadijah. Hal ini dibuktikan lewat sebuah hadist riwayat Bukhari di mana suatu ketika Jibril mendatangi Rasulullah “Wahai Muhammad, Khadijah akan datang kepadamu membawa makanan dan minuman. Saat ia datang sampaikan salam dari Allah dan dariku padanya” Wanita manakah yang kiranya mendapat salam dari Allah Tuhan semesta alam jika bukan wanita terbaik?

Pernikahan yang berlangsung selama seperempat abad itu harus berakhir sementara(kenapa sementara? Karena mereka pasti akan dipersatukan oleh Allah di surga, sebaik-baiknya tempat). Khadijah menghadap Allah, menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta. Bertambah beratlah beban Rasulullah dalam menyeru perintah Allah. Ia kehilangan pegangan dan tempatnya melipur lara.

Sepeninggal Khadijah, dari sebuah riwayat, Fatimah bertanya kepada ayahnya.

“Dimanakah ummi Khadijah?”

“Disebuah rumah yang  terbuat dari emas permata di mana tidak ada kegundahan di dalamnya. Ia berada diantara Maryam dan Asiyah” jawab Rasulullah

“Dari emas permata ini?” tanya Fatimah lagi.

“Bukan, melainkan dari emas permata yang tersusun bersama mutira, intan, dan yakut”

Sepotong kisah cinta abadi, antara seorang istri yang patuh,bakti dan taat pada suami dengan seorang suami yang mencintai, mengayomi dan membimbing istri menuju surga Ilahi.

Semoga kisah cinta mereka bisa menjadi pedoman kita. Bagi yang sudah berumah tangga semakin kokoh dan erat karena meneladani nabi, bagi yang belum berumah tangga, besabarlah. Jangan pernah tempuh jalan pacaran. Kita perbaiki diri kita, semakin kita baik, maka semakin baik  pula jodoh kita kelak. Jodoh adalah cerminan diri kita.  Seperti halnya Khadijah dan Rasulullah ,wanita baik-baik untuk lelaki baik-baik.

Salam

 

 

 Image